Global News : Jakarta - Polisi masih memburu empat pelaku pencurian
di Perumahan Citra Garden V Blok E3, Kalideres, Jakarta Barat. Seorang
pencuri membawa pistol untuk mengancam korban.
Menurut Kanit
Krimum Polres Jakarta Barat, AKP Martson Marbun, pelaku pertama
berperawakan gemuk dan berkulit putih menggunakan topi, celana pendek
dan sepatu kets putih. "Dan membawa senjata api," ujarnya kepada
detikcom, Jumat (2/8/2013).
Pelaku kedua berperawakan tinggi
kurus, berkulit hitam. Pelaku berpakaian rapi dan membawa pisau.
Sedangkan pelaku ketiga diketahui berbadan kecil dengan kulit hitam.
Sedangkan ciri-ciri pelaku keempat belum teridentifikasi. "Korban tidak melihat dengan jelas," ujarnya.
Para
pencuri beraksi kemarin (1/8) pagi. Mereka leluasa masuk ke rumah
ketika pemiliknya tengah memasak. Korban langsung ditodong pistol dan
diikat dengan tali sepatu.
Setelah 'melumpuhkan' korban, pencuri
leluasa menggasak perhiasan 15 gram dan uang tunai Rp 1 juta. Kasus ini
ditangani Polsek Kalideres.
detiknews.com
Jumat, 02 Agustus 2013
Presiden SBY akan Tinjau Jalur Mudik pada Senin Pekan Depan
Global News : Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan
melakukan pengecekan jalur mudik. Pengecekan itu dilakukan untuk melihat
kesiapan dan pelayanan di jalur mudik yang diperkirakan mulai padat
pada Minggu lusa."Untuk diketahui, Senin nanti saya akan cek lapangan, objek yang saya lihat secara langsung nanti," kata Presiden SBY saat Sidang Kabinet Paripurna, di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Jumat (2/8/2013).
Presiden tidak menjelaskan secara gamblang kemana dirinya akan melakukan pengecekan. Dia berharap agar saat melakukan pengecekan semua persiapan jalur mudik sudah tahap final.
"Pengamanan dan pelayanan sydah berjalan penuh. Sekarang ini harus benar-benar final cek," ucapnya.
Rapat sidang kabinet hari ini membahas persiapan perayaan hari lebaran. Turut hadir sejumlah menteri seperti Mendagri Gamawan Fauzi, Menag Suryadarma Ali, Menko Kesra Agung Laksono serta pejabat setingkat menteri lainnya.
"Pengecekan terakhir atas kesiapan kita untuk memberikan pengamanan dan pelayanan mudik lebaran. Sebenarnya, kita telah membahas pada Sidang kabinet paripurna dua minggu yang lalu, tetapi hari ini kita ingin menyakinkan sekali lagi segala yang telah kita rencanakan dan persiapan betul-betul sudah siap," ucapnya.
detiknews.com
PD Cari Capres 'Penakluk' Jokowi, Ini Kata PDIP
Global News : Jakarta - Partai Demokrat berjibaku menggelar konvensi
untuk mencari calon presiden 2014 yang bisa menaklukkan elektabilitas
Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi). PDIP menanggapi santai hasrat partai
tetangga tersebut."Bagi PDIP elektabilitas (Jokowi) memang aspek yang penting, tapi jauh lebih penting menghadirkan tokoh yang bisa mengelola negara yang saat ini sudah masuk jebakan impor pangan dan energi," kata Wasekjen PDIP Hasto Kristianto kepada detikcom, Jumat (2/8/2013).
Menurutnya, parpol manapun sah-sah saja memikirkan Pilpres 2014, tetapi mereka jangan lupa masalah yang dihadapi bangsa saat ini. Ia menyindir tokoh yang berhasrat menjadi capres tapi lupa pada tanggung jawabnya di pemerintahan.
"Bagaimana kalau orang yang bertanggung jawab pada masalah impor pangan saja ingin jadi capres?" sindirnya.
Sejauh ini, hanya ada satu tokoh peserta konvensi capres PD yang mengurus impor pangan, yakni Menteri Perdagangan Gita Wirjawan. Namun Hasto tak langsung menyebut sengaja menyindir manuver politik Gita menatap Pilpres 2014.
Kembali soal penakluk Jokowi, Hasto menuturkan PDIP tak ingin buru-buru menentukan capres maupun cawapres untuk 2014. Ada yang lebih penting dipikirkan meski PDIP tahu betul kadernya Jokowi sangat potensial.
"Masalah yang dihadapi saat ini lebih penting dari hanya sekedar elektabilitas capres. Bagaimana bisa mengelola pemerintah yang bisa membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang, bagaimana mencari pemimpin yang berani menolak impor cabai dan beras seperti zaman Soekarno," ucap Hasto.
Sebelumnya diberitakan PD memasang target melahirkan tokoh potensial yang sanggup menaklukkan elektabilitas Jokowi. Menurut pengamat politik Hamdi Muluk, cukup berat konvensi capres PD bisa melahirkan tokoh sekelas Gubernur DKI yang terus memuncaki survei capres tersebut. Meski demikian, anggota Wanbin PD Melani Leimena menilai kemungkinan tersebut masih ada.
detiknews.com
Siapa Pemilik B 85 RKM yang Sopirnya Pukul Penjaga Busway Masih Misterius
Global News : Jakarta - Siapa pemilik nopol B 85 RKM masih misterius.
Pastinya data dari kepolisian pelat itu terdaftar untuk mobil Vellfire
hitam tahun 2010 atas nama perusahaan PT PSN yang terletak di Pasar
Minggu, Jaksel. Tapi setelah ditelusuri, pihak perusahaan menepis
memiliki kendaraan itu."Operasional kami hanya Avanza putih dengan nopol B 1753 RSO," kata Eka, petugas resepsionis yang ditemui detikcom di kantornya, Jumat (2/8/2013).
Eka menuturkan, perusahaan alat-alat medis itu sama sekali tak memiliki mobil Vellfire atau Land Cruiser. Atasannya pun hanya memakai mobil Avanza.
"Ke mana-mana kita antar jemput dengan mobil Avanza. Sama sekali nggak ada Vellfire atau Cruiser," ujarnya.
Hingga kini belum diketahui siapa sebenarnya pemilik asli pelat itu. Kasubdit Gakum Polda Metro Jaya AKBP Hindarsono yang dikonfirmasi mengaku masih melakukan pelacakan,
Pelat mobil itu memang tengah menjadi perbincangan. Saat pelat itu dipakai mobil Toyota Land Cruiser, diketahui sopirnya memukul penjaga busway.
Peristiwa pemukulan terjadi pada Kamis (1/8) pukul 16.30 WIB di dekat Halte Pejaten Phillips. Mobil itu dilarang masuk jalur, kemudian dihadang penjaga. Tapi mobil malah menabrak penjaga. Kemudian, saat kapnya digebrak sopir mobil itu keluar dan memukul penjaga busway.
detiknews.com
Australia hukum perusahaan perusak tempat suci warga Aborigin
Global News : Penambangan membuat sebagian tempat suci warga Aborigin.Sebuah perusahaan tambang diputus bersalah karena menodai sebuah tempat suci warga Aborigin yang terletak di Northern Territory, Australia.
Perusahaan bernama OM Manganese dinyatakan bersalah dalam sidang yang berlangsung hari Jumat (02/08).
Keputusan ini menjadi penting bagi warga negara itu karena untuk pertama kalinya sebuah perusahaan dituntut dan kemudian dinyatakan bersalah karena melakukan penodaan terhadap sebuah tempat yang dianggap suci.
Tempat suci yang dinodai oleh perusahaan itu oleh masyarakat setempat dikenal dengan sebutan Dua Perempuan Duduk dan terletak di Bootu Creek.
Akibat putusan pengadilan ini, maka OM Manganese dihukum membayar denda sebesar US$134000 atau sekitar Rp2 miliar lebih.
Meminta maaf
OM Manganese melalui petingginya telah menyampaikan permintaan maaf dan mengaku tidak pernah berniat merusak tempat suci tersebut."Perusahaan tidak pernah bermaksud untuk membahayakan, merusak atau tidak menghormati situs suci itu," kata Kepala Eksekutif OM Holdings, Peter Toth.
"Kami dengan tulus menyampaikan penyesalan atas kerusakan dan luka yang disebabkan oleh kami."
"Kami meminta maaf kepada penjaga tempat itu dan masyarakat tradisional di sana," katanya.
Tempat suci bernama Dua Perempuan Duduk ini merupakan bagian penting dari warga Kunapa d Australia.
Kepala Eksekutif Otoritas Perlindungan Kawasan Aborigin, Dr Ben Scambary mengatakan tempat itu merupakan sesuatu yang penting bagi warga asli Australia.
Hal serupa juga disampaikan oleh perwakilan warga Kunapa, Gina Smith.
"Tempat itu akan selalu menjadi tempat suci bagi kami namun itu justru telah dihancurkan dan kami tidak tahu apa yang harus dilakukan karena ini tidak pernah terjadi pada generasi sebelumnya," kata Gina.
"Tempat tersebut telah berada di sana selama ribuan tahun dan menjadi bagian kebudayaan dan cerita kami.
detiknews.com
Protes Kerusakan Danau Toba, 3 Pahlawan Lingkungan Kembalikan Kalpataru
Global News : Medan - Tiga pahlawan lingkungan di Sumatera Utara
(Sumut) mengembalikan berbagai penghargaan yang mereka peroleh sebagai
bentruk protes kerusakan lingkungan di Danau Toba. Termasuk yang
dikembalikan itu dua penghargaan Kalpataru dari Presiden RI.Mereka yang mengembalikan penghargaan itu, masing-masing Marandus Sirait, Hasoloan Manik, dan Wimar Simanjorang. Pengembalian dilakukan dalam bentuk aksi bersama yang dilakukan di Taman Beringin, Jalan Sudirman, Medan, Jumat (2/8/2013).
Penghargaan yang dikembalikan itu antara lain dua Kalpataru, yang diperoleh Marandus Sirait untuk kategori Perintis Lingkungan pada tahun 2005 dan yang diperoleh Hasoloan Manik selaku Ketua Lembaga Peduli Lingkungan Hidup Indonesia (Pilihi) dalam kategori penyelamat lingkungan pada tahun 2010.
Sementara Wilmar E Simanjorang mengembalikan Danau Toba Award yang diterimanya pada tahun 2011 dari Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho dalam selaku Ketua Badan Pelaksana Badan Koordinasi Pengelolaan Ekosistem Kawasan Danau Toba.
Selain itu ada berbagai piagam dan penghargaan lain yang dikembalikan ketiganya, termasuk penghargaan Wana Lestari yang diterima Simanjorang dari Menteri Lingkungan Hidup Zulkifli Hasan pada tahun 2011.
Marandus Sirait menyatakan pemulangan pernghargaan ini merupakan bentuk keprihatinan mereka karena tidak adanya upaya pemerintah mengatasi kerusakan lingkungan di sekitar Danau Toba. Hutan yang dirusak semakin lebar, dan sehingga mengancam kelestarian danau itu dan mengancam keberadaan masyarakat di sekitarnya.
"Kerusakan itu terus terjadi sampai saat ini, dan pemerintah tidak melakukan apapun untuk mengatasinya," kata Sirait.
Semua penghargaan itu akan dikembalikan kepada pemberinya masing-masing. Penghargaan dari Gubernur Sumut dikembalikan hari ini juga ke Kantor Gubernur, sementara penghargaan dari Menteri dan Presiden akan diantarkan langsung ke Jakarta.
"Jika pemerintah tetap tidak berbuat apa-apa, maka 13 penerima Kalpataru asal Sumut, juga berencana mengembalikan penghargaan itu kepada pemerintah," kata Sirait.
detiknews.com
Nazar Ibaratkan Ketatnya Penjagaan di LP Sukamiskin Seperti di Guantanamo
Global News : Jakarta - Terpidana kasus korupsi wisma atlet Sea
Games, Muhammad Nazaruddin saat ini menghuni LP Sukamiskin di Bandung.
Menurut Nazar, pengawasan di Sukamiskin sangat ketat layaknya penjara
Guantanamo di Amerika."Macamana, Suakamiskinn itu seperti Guantanamonya Indonesia," ujar Nazaruddin usai menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Jumat (2/8/2013).
Menurut Nazar, LP Sukamiskin selalu diawasi terus oleh Wamenkumham, Deny Indrayana. Itulah yang membuat Nazar menyebut LP Sukamiskin sangat ketat.
"Itu diawasi terus sama Wamen," kata Nazaruddin.
Muhammad Nazaruddin sebelumnya mendekam di LP Cipinang. Tapi selama di dalam LP, dia diduga masih bisa mengendalikan perusahaannya bahkan mendirikan beberapa perusahaan baru. Nazar diduga mendapat fasilitas lebih dan berbagai kelonggaran sehingga dia masih bisa mengadakan rapat dengan para karyawannya.
Menkumham, Amir Syamsudin langsung memindahkan Nazaruddin ke LP Sukamiskin. Sukamiskin memang merupakan LP khusus untuk para terpidana korupsi.
detiknews.com
Razia Preman Tanah Abang, Polisi Tangkap 2 Sekuriti Mabuk
Jakarta - Di antara 48 orang yang polisi tangkap dalam
razia preman di Tanah Abang, terdapat dua orang petugas keamanan resmi
gedung pusat grosir itu. Dua orang itu ditangkap dalam keadaan mabuk dan
sedang memeras pedagang kaki lima.
"Ada dua sekuriti yang kita tangkap dalam keadaan mabuk, mereka memalak PKL-PKL," kata Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Herry Heryawan kepada wartawan, Jumat (2/8/2013).
Kepolisian tengah menyidik dugaan tindak pidana pemalakan yang dilakukan dua petugas keamanan tersebut. Bila terbukti, maka pasti akan dikenakan hukuman.
"Sebelumnya kami sudah memantau dan menyelidiki, data-datanya ada," sambungnya.
Kamis (1/8) kemarin, aparat Subdit Jatanras dan Subdit Ranmor Ditreskrimum Polda Metro Jaya menciduk 48 preman di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Preman-preman itu diciduk di depan Masjid At-Taqwa, di depan Blok G, depan Blok B, dan Pasar Tasik.
Preman-preman ini ada yang melakukan kegiatan timer, juru parkir liar, Pak Ogah, dan juru tagih. Dari mereka, petugas menyita sejumlah uang recehan senilai jutaan rupiah, kertas rekapan hasil pemalakan ke sejumlah lapak, dan 3 butir pil methadone.
detiknews.com
"Ada dua sekuriti yang kita tangkap dalam keadaan mabuk, mereka memalak PKL-PKL," kata Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Herry Heryawan kepada wartawan, Jumat (2/8/2013).
Kepolisian tengah menyidik dugaan tindak pidana pemalakan yang dilakukan dua petugas keamanan tersebut. Bila terbukti, maka pasti akan dikenakan hukuman.
"Sebelumnya kami sudah memantau dan menyelidiki, data-datanya ada," sambungnya.
Kamis (1/8) kemarin, aparat Subdit Jatanras dan Subdit Ranmor Ditreskrimum Polda Metro Jaya menciduk 48 preman di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Preman-preman itu diciduk di depan Masjid At-Taqwa, di depan Blok G, depan Blok B, dan Pasar Tasik.
Preman-preman ini ada yang melakukan kegiatan timer, juru parkir liar, Pak Ogah, dan juru tagih. Dari mereka, petugas menyita sejumlah uang recehan senilai jutaan rupiah, kertas rekapan hasil pemalakan ke sejumlah lapak, dan 3 butir pil methadone.
detiknews.com
Kamis, 01 Agustus 2013
Pemilu Dinilai Rawan Peredaran Duit Hasil Korupsi
Global News : Jakarta - Direktur Eksekutif Indonesian Budget Watch,
Arief Nur Alam, menilai rawan peredaran uang hasil korupsi di Pemilu
2014 mendatang. Masyarakat jangan tergoda dengan uang panas tersebut."Ya itu sudah pasti beredar. Modusnya banyak," kata Arief usai diskusi di kantor ICW, jalan Kalibata IV, Jakarta Selatan, Jumat (2/8/2013).
Selain di Pemilu, menurutnya, aliran uang panas juga marak terjadi di Pilkada. Modusnya beragam, dari aliran dana Bansos dan cara lainnya.
"Ada yang transaksional proyek dan menggunakan uang proyek Bansos. Jor-joran mengalokasikan Bansos ke dapilnya," katanya.
Apalagi ada 10 menteri dari parpol. Tentunya diharapkan parpol tidak mengambil dana kampanye dari kementerian-kementerian.
"Sangat potensial politisasi anggaran yang beraroma korupsi. Polanya harus diubah, karena APBN dilakukan untuk politisasi saja," tegasnya.
detiknews.com
Demi Mimpi Wanita Ini Rela Jadi Pembantu Dadakan
Global News : Jakarta - Darnia, 30 tahun, menyusun 3 pasang
pakaiannya ke dalam tas ransel hitam berukuran sedang. Sebuah selimut,
mukena dan handuk juga ia selipkan. Lalu ia memanggul tasnya yang tidak
tampak terlalu gembung. Di suatu tempat yang jadi titik temu, ia bersua
dengan 26 orang wanita sekampungnya, dari Pandeglang, Jawa Barat.Senin lalu, rombongan yang terdiri dari 27 orang wanita tersebut berjalan beriringan naik mobil pribadi. Tujuan mereka satu tempat, Jakarta. “Kami naik travel, pakai mobil bagus, pokoknya jadi orang kaya sementara,” kata Darnia kepada detikcom, Kamis (1/8). Tujuannya sebuah rumah bercat krem di perumahan Persero Adumaniaga di kawasan Cipete Selatan, Jakarta Selatan.
Di rumah itu ada sebuah plang dengan tulisan yang tidak mencolok tapi terbaca jelas, BUGITO. Di kawasan tersebut, nama Bu Gito sudah sangat dikenal. Dia adalah seorang pemilik Yayasan Cendana Raya yang berkecimpung dalam penyaluran tenaga kerja baik pembantu rumah tangga, babysitter, koki, sopir hingga tukang kebun.
Melalui BUGITO, mereka ingin menjajal keberuntungannya dengan menjadi tenaga kerja infal – khusus dipekerjakan pada masa mudik dan Lebaran-. Darnia berharap pada gelimang rupiah. Di kampung Ibu dua anak ini kadung mendengar janji manis akan upah pembantu rumah tangga infal yang tiga kali lipat dari upah pembantu pada masa normal.
Harapan Darnia tak muluk-muluk. “Uangnya nanti untuk 100 hari anak pertama saya, nanti tanggal 9 genap 100 hari,” kata dia.
****
Warti, 37 tahun bergegas. Ia hanya menenteng tas kecil berisi empat pasang baju, salah satunya sepasang baju tidur. Dia bergabung dengan empat orang rekannya dan seorang makelar wanita yang menjanjikan pekerjaan baginya. Warti sebenarnya agak ragu-ragu berangkat. Sebelumnya ia tak pernah kerja-kerja bulanan apalagi hanya untuk beberapa hari saja.
Tapi bayangan akan dapat penghasilan besar akhirnya membulatkan tekadnya. Dia belum pernah menjadi pembantu infal, meski sebelum menikah ia sempat bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kawasan Cilincing, Jakarta Utara.
Wanita yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani ini sudah menyusun rencana jika nanti berhasil mendapat gaji besar. Salah satunya untuk biaya anaknya yang saat ini duduk di bangku sebuah sekolah menengah kejuruan. Sisanya akan digunakan sebagai modal untuk mengolah sawahnya. “Sekarang di sana lagi mau musim tanam, makanya ini lagi cari modal untuk nanam, satu hektar perlu modal satu juta (rupiah),” kata dia.
Di kampung, Warti juga menjadi buruh tani. Penghasilannya Rp 40 ribu per hari, dengan jam kerja mulai jam 07.00 pagi sampai sore. Dia pun tergiur penghasilan Rp 100 ribu di Jakarta dengan menjadi pembantu musiman.
****
Dari Pandeglang, Banten Hasana (40 tahun), Ana Sarniti (38 tahun), dan Noorlia (34 tahun) sama-sama berangkat naik mobil. Senin lalu tiga wanita yang berprofesi sebagai petani itu juga berangkat dibawa oleh makelar yang sama dengan Darnia. Tujuannya sama demi mendapat gaji yang lebih tinggi dibanding pendapatan saat di kampung halaman mereka.
“Sekarang baru selesai panen, jadi enggak ada kerjaan di kampung,” kata ketiganya, hampir serempak. Tak adanya pekerjaan dan penghasilan membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka tertarik saat mendengar banyak permintaan untuk tenaga pembantu rumah tangga di Ibu kota.
Noorlia, ibu tiga orang anak itu mengaku belum pernah menjadi pembantu musiman. Hanya dia mengaku pernah bekerja untuk cuci gosok, beres-beres dan memasak pada seorang majikan di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Ana Sarniti pun sama. Ibu dua orang anak itu hanya mengaku pernah bekerja di Tangerang. Sementara Hasana, ibu empat orang anak, mengaku sudah pernah bekerja sebagai infal tahun lalu di Sunter.
“Saya kerja 18 hari, dapat per hari Rp 90 ribu, enggak ada yang dipotong,” kata Hasana. Baginya, kesuksesan yang pertama menjadi gula yang ingin kembali ia cicipi pada musim mudik kali ini.
****
Kelima wanita itu disatukan oleh mimpi akan manisnya peluang jadi pembantu infal. Namun kini kegetiran tak bisa disembunyikan dari wajah-wajah mereka yang mulai resah. Tekad mereka yang menggebu mulai luntur. Pasalnya, mereka sudah menunggu hingga empat hari. “Sekarang mah enggak tau ini, sudah empat hari di sini belum ada yang ambil,” kata Ana.
Noor yang mulai cemas pun ikut menimpali, “Dari 27 orang yang sisa sekarang 10 orang”. Rekannya Hasana, ingin membagi semangat. “Saya dari hari Senin sampai sekarang belum juga, insyaallh besok mangkat dapat majikan yang baik,” kata Hasana.
Di tempat penampungan sementara itu, tak hanya ada Hasana, Ana, Noor, Darnia dan Warti tapi juga dari berbagai pelosok di Jawa tengah dan Jawa Barat. Menurut Ibu Gito, saat ini masih ada sekitar 60 orang infal yang siap pakai tapi belum tersalurkan. Mereka memang masih ditampung dan mendapat jatah makan berbuka dan sahur.
Di sana mereka tidur berdesakan di atas lantai yang dilapisi tikar plastik. Semua demi iming-iming gaji infal yang tinggi. “Sedihnya, Lebaran cuma satu hari tapi harus pisah dari keluarga, karena duit,” kata Hasana.
detiknews.com
Langganan:
Postingan (Atom)